KADAR ASPAL HASIL EKSTRAKSI PADA CAMPURAN AC-WC DI AMP, BELAKANG FINISHER DAN HASIL CORE DRILL

Authors

  • Judi K. Nasjono Prodi Teknik Sipil, FST Undana
  • Desi N. Boimau Prodi Teknik Sipil, FST Undana
  • John H. Frans Prodi Teknik Sipil, FST Undana

Keywords:

Kadar Aspal, Ekstraksi, Aspal AC-WC

Abstract

Kadar aspal adalah persentase kandungan aspal didalam campuran perkerasan jalan. Dalam mencapai umur maksimum suatu perkerasan jalan kadar aspal menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Perubahan kadar aspal harus memenuhi batas toleransi berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 revisi 1 (Satu) sebesar ± 0,3 % dari berat total campuran. Metode yang digunakan pada penelitian ini dengan cara pengujian ekstraksi. Penelitian ini menggunakan alat refluctor dengan TCE sebagai pelarutnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil ekstraksi kadar aspal pada campuran AC-WC yang diambil dari AMP, belakang finisher dan hasil Core Drill serta menjawab faktor penyebab kehilangan kadar aspal. Berdasarkan hasil Penelitian ekstraksi kadar aspal didapat nilai rata-rata yaitu dari AMP sebesar 5,69 %, dari belakang finisher sebesar 5,67 % dan hasil core drill sebesar 5,59 % dari hasil pengujian tersebut diketahui bahwa nilai kadar aspal semakin berkurang dari kadar aspal JMF yaitu 5,70 %. Sehingga dapat dibuat  dalam persamaan Kadar Aspal JMF > AMP > belakang Finisher > hasil Core Driil. Hasil rata-rata : 5,70 % > 5,69 % > 5,67 % > 5,59 %. Dari pengujian perbandingan hasil ekstraksi dapat di ambil kesimpulan bahwa kadar aspal dari AMP lebih besar dari kadar aspal finisher dan lebih besar dari hasil core drill. Hal ini membuktikan bahwa aspal meresap ke dalam pori agregat dan semuanya tidak terekstraksi dengan sempurna.

Kadar aspal adalah persentase kandungan aspal didalam campuran perkerasan jalan. Dalam mencapai umur maksimum suatu perkerasan jalan kadar aspal menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Perubahan kadar aspal harus memenuhi batas toleransi berdasarkan Spesifikasi Umum Bina Marga 2018 revisi 1 (Satu) sebesar ± 0,3 % dari berat total campuran. Metode yang digunakan pada penelitian ini dengan cara pengujian ekstraksi. Penelitian ini menggunakan alat refluctor dengan TCE sebagai pelarutnya. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil ekstraksi kadar aspal pada campuran AC-WC yang diambil dari AMP, belakang finisher dan hasil Core Drill serta menjawab faktor penyebab kehilangan kadar aspal. Berdasarkan hasil Penelitian ekstraksi kadar aspal didapat nilai rata-rata yaitu dari AMP sebesar 5,69 %, dari belakang finisher sebesar 5,67 % dan hasil core drill sebesar 5,59 % dari hasil pengujian tersebut diketahui bahwa nilai kadar aspal semakin berkurang dari kadar aspal JMF yaitu 5,70 %. Sehingga dapat dibuat  dalam persamaan Kadar Aspal JMF > AMP > belakang Finisher > hasil Core Driil. Hasil rata-rata : 5,70 % > 5,69 % > 5,67 % > 5,59 %. Dari pengujian perbandingan hasil ekstraksi dapat di ambil kesimpulan bahwa kadar aspal dari AMP lebih besar dari kadar aspal finisher dan lebih besar dari hasil core drill. Hal ini membuktikan bahwa aspal meresap ke dalam pori agregat dan semuanya tidak terekstraksi dengan sempurna.

Asphalt content is the percentage of asphalt content in the road pavement mixture. In achieving the maximum life of a road pavement, asphalt content is one of the important factors that need to be considered. Changes in asphalt content must meet the tolerance limit based on the General Specification of Highways 2018 revision 1 (One) of ± 0.3% of the total weight of the mixture. The method used in this study is by means of extraction testing. This study used a refluctor with TCE as the solvent. This study aims to compare the results of asphalt extraction in the AC-WC mixture taken from AMP, rear finisher and Core Drill results and answer the factors causing asphalt loss. Based on the results of the asphalt content extraction study, the average value was obtained from AMP by 5.69%, from behind the finisher by 5.67% and the core drill results by 5.59% from the test results, it was known that the asphalt content value was decreasing from the JMF asphalt content, which was 5.70%. So it can be made in the JMF > AMP Asphalt Grade equation > behind the Finisher > the result of the Core Driil. Average yield: 5.70% > 5.69% > 5.67% > 5.59%. From the comparative testing of extraction results, it can be concluded that the asphalt content of AMP is greater than the asphalt content of the finisher and greater than the core drill results. This proves that asphalt seeps into the pores of the aggregate and everything is not extracted perfectly.

References

Direktorat Jendral Bina Marga. (2018). Spesifikasi umum 2018. Direktorat Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Dwipayana. (2018). Perbandingan Kadar Aspal Hasil Ekstraksi Pada Campuran Aspal AC - BC ( Studi Kasus : Simpang Semarapura – Watu Klotok ). Universitas Hindu Indonesia Denpasar.

Soehardi, F. (2017). Perbandingan Kadar Aspal Hasil Ekstraksi Pada Campuran Aspal AC - BC. Universitas Lancang.

Soehardi, F., & Wiyono, S. (2015). Kajian Perbandingan Kadar Aspal Hasil Ekstraksi Pada Campuran AC-WC Gradasi Kasar Dengan Cairan. Universitas Lancang.

Sukirman, S. (2010). Perencanaan Tebal Struktur Perkerasan Lentur. NOVA.

Downloads

Published

2026-06-30

How to Cite

Nasjono , J. K., Boimau, D. N., & Frans , J. H. (2026). KADAR ASPAL HASIL EKSTRAKSI PADA CAMPURAN AC-WC DI AMP, BELAKANG FINISHER DAN HASIL CORE DRILL . Jurnal Teknik Sipil, 15(1), 11–20. Retrieved from https://sipil.ejournal.web.id/index.php/jts/article/view/1036

Most read articles by the same author(s)

Obs.: This plugin requires at least one statistics/report plugin to be enabled. If your statistics plugins provide more than one metric then please also select a main metric on the admin's site settings page and/or on the journal manager's settings pages.