PENGARUH PENAMBAHAN AIR DAN AIR SEMEN UNTUK NILAI KUAT TEKAN BETON NORMAL DAN MORTAR
Keywords:
Penambahan Air Semen dan Air, Kuat Tekan Beton Normal dan MotarAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan air dan air semen untuk nilai kuat tekan beton normal dan mortar. Mutu rencana beton adalah 25 MPa. Mortar dengan komposisi campuran 1PCC:6Psr. Waktu perawatan selama 28 hari. Persentase penambahan air dan air semen adalah 5%, 10% dan 15% dari volume air rencana, penambahan dibuat setelah campuran didiamkan selama 20 menit, 40 menit dan setelah campuran homogen tanpa didiamkan. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata penurunan kuat tekan beton saat penambahan air dan air semen 5%, 10%, 15% , setelah campuran didiamkan 20 menit untuk penambahan air adalah 19.12%, 23.16%, 27.21%, untuk penambahan air semen adalah 14,34%, 9.93%, 5.15%, penambahan setelah campuran homogen tanpa didiamkan, untuk penambahan air adalah 38.24%, 44.49%, 47.43%, untuk penambahan air semen adalah 22.79%, 29.78%, 34.93%. Rata-rata penurunan kuat tekan mortar saat penambahan air dan air semen 5%, 10%, 15% , setelah campuran didiamkan 20 menit untuk penambahan air adalah 27.59%, 41.38%, 51.72%, untuk penambahan air semen adalah 41.38%, 34.48%, 27.59%, setelah campuran didiamkan 40 menit untuk penambahan air adalah 48.28%, 55.17%, 65.25%, untuk penambahan air semen adalah 51.72%, 48.28%, 44.83%, setelah campuran homogen tanpa didiamkan untuk penambahan air adalah 34.48%, 41.38%, 48.28%, untuk penambahan air semen adalah 27.59%, 34.48%, 44.83%.
This research aims to determine the effect of adding water and cement water to the compressive strength values of normal concrete and mortar. The design quality of the concrete is 25 MPa. Mortar with mixture composition 1PCC:6Psr. Treatment time (curing) is 28 days. The percentage of addition of water and cement water is 5%, 10% and 15% of the planned water volume, additions are made after the mixture has been left to rest for 20 minutes, 40 minutes and after the mixture is homogeneous without being left to stand. The results of the research show that the average decrease in concrete compressive strength when adding water and cement water is 5%, 10%, 15%, after the mixture has been left for 20 minutes for adding water it is 19.12%, 23.16%, 27.21%, for adding water cement it is 14, 34%, 9.93%, 5.15%, addition after the mixture is homogeneous without letting it sit, for adding water it is 38.24%, 44.49%, 47.43%, for adding cement water it is 22.79%, 29.78%, 34.93%. The average decrease in the compressive strength of mortar when adding water and cement water was 5%, 10%, 15%, after the mixture was left for 20 minutes for adding water it was 27.59%, 41.38%, 51.72%, for adding water cement it was 41.38%, 34.48% , 27.59%, after leaving the mixture for 40 minutes for adding water it was 48.28%, 55.17%, 65.25%, for adding cement water it was 51.72%, 48.28%, 44.83%, after the mixture was homogeneous without leaving it for adding water it was 34.48%, 41.38% , 48.28%, for adding cement water it is 27.59%, 34.48%, 44.83%.
References
Asroni, A. (2007). Balok dan Pelat Beton Bertulang. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Badan Standardisasi Nasional. (2002). Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. SNI 03-2847-2002. Bandung: Badan Standardisasi Nasional, 251.
Sari, R. A. I., Wallah, S. E., & Windah, R. S. (2015). Pengaruh Jumlah Semen Dan Fas Terhadap Kuat Tekan Beton Dengan Agregat Yang Berasal Dari Sungai. Jurnal Sipil Statik, 3(1), 68–76.
Sinaga, R., & Harmiyati, H. (2015). Pengaruh Penambahan Air Lokasi Kerja Untuk Nilai Kuat Dan Tekan Beton Normal. Jurnal Saintis, 15(1), 45–58.
SNI 03-2834-2000. (2000). SNI 03-2834-2000: Tata cara pembuatan rencana campuran beton normal. Sni 03-2834-2000, 1–34.
SNI 03-6825. (2002). Sni 03-6825-2002. Standar Nasional Indonesia Metode Pengujian Kekuatan Tekan Mortar Semen Portland Untuk Pekerjaan Sipil.
Tjokrodimuljo, K. (1996). Teknologi Beton. Penerbit Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada.
